Saturday, September 13, 2014

Agar Khusyuk Dalam Shalat

SEBAB-SEBAB KHUSYUKNYA SHALAT
Sering dari kita mengeluh kenapa sulit sekali untuk khusyuk dalam shalat, untuk itulah kita perlu tahu sebab-sebab agar dapat menjalankan shalat dengan khusyuk, yaitu:
a) bersiap-siap untuk shalat dengan sebaik-baiknya
hal ini dapat dimulai dengan menjawab adzan, berdoa setelah adzan dengan doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., berdoa diantara adzan dan iqamat, memperbagus wudlu dengan mengucapkan basmalah sebelumnya dan berdoa setelahnya, bersiwak (sikat gigi), memakai pakaian yang terbaik dan bersih, bersegera menuju masjid dan berjalan dengan tenang, dan menyamakan serta merapatkan shaf.
b) Thumakninah dalam shalat
Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah mati di dalam shalatmu, karena seseorang yang mengingat mati di dalam shalatnya maka dia akan membaguskan shalatnya tersebut, dan shalatlah seperti shalatnya seseorang yang terakhir kali.”
c) mentadaburi ayat dan doa-doa shalat yang dibaca
kita tidak dapat mentadaburi ayat dan doa-doa yang dibaca kecuali dengan mengetahui makna dari yang kita baca tersebut. apabila  kita mampu mentafakurinya maka akan mengalirlah air mata kita.
Diantara hal yang dapat membantu kita untuk mentadabburi dan berinteraksi dengan ayat yang kita baca adalah dengan mengucapkan subhanallah ketika membaca ayat-ayat yang memerintahkan untuk bertasbih, membaca ‘Audzubillahi minasyaithanirrajim ketika kita membaca ayat-ayat yang memerintahkan untuk berta’awudz demikian seterusnya.
Diantara salah satu cara kita menjawab ayat alquran yang kita baca adalah dengan mengucapkan amin ketika imam selesai membaca Al Fatihah
d) membaca ayat dengan tartil dan memperindah suara bacaan kita.
Allah SWT. berfirman, “Dan bacalah Al Quran dengan tartil.” Rasulullah saw. juga bersabda, “Allah azza wa jalla berfirman, ‘shalat dibagi antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan hamba-Ku berhak untuk mendapatkan apa yang dia minta, apabila dia mengucap الحمد لله رب العالمين maka Allah berkata, ‘hamba-Ku memuji-Ku,’ apabila dia mengucap الرحمن الرحيم maka Allah berkata, ‘hamba-ku menyanjung-Ku,’ apabila dia mengucap مالك يوم الدين maka Allah berkata, ‘hamba-Ku mengagungkan-Ku,’ apabila dia mengucap إياك نعبد وإياك نستعين maka Allah berkata, ‘ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapat apa yang dia minta,apabila dia mengucap
 اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين انعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
Maka Allah berkata, ‘ini adalah untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapat apa yang dia minta.
e) shalat dengan mengambil sutrah (pembatas shalat)
diantara hal yang dapat menyebabkan kita khusyuk dalam shalat adalah dengan mengambil sutrah, diantara manfaat sutrah adalah : menahan pandangan, melarang orang yang ingin lewat didepannya, dan menghalangi setan lewat didepan kita untuk mengganggu shalat. Rasulullah saw. bersabda, “apabila salah seorang dari kalian shalat di depan sutrah maka hendaklah ia mendekatinya agar setan tidak mengganggu shalatnya.”
f) meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
ketika shalat, Rasulullah saw. menundukkan kepala beliau dan pandangannya melihat ke tempat sujud, adapun ketika tasyahud, maka beliau melihat kearah jari telunjuk sambil menggerak-gerakkannya,sebagaimana riwayat yang sah dari beliau, “hal itu (memberikan isyarat dengan jari telunjuk) lebih berat bagi setan daripada (pukulan) besi.”
Isyarat dengan menggunakan jari telunjuk dapat mengingatkan seorang hamba tentang keesaan Allah ta’ala, dan ikhlas dalam beribadah . hal itu merupakan sesuatu yang paling agung yang dibenci oleh setan.
g) tidak hanya membaca satu surat, ayat, dzikir, dan doa saja ketika shalat, tetapi  juga membaca surat, ayat , atau doa yang lain ketika shalat
hal ini dilakukan agar orang yang shalat merasakan suasana yang baru, makna ayat dan doa yang baru akan memberikan manfaat baginya, memperbanyak ragam yang dibaca ketika shalat adalah termasuk sunnah dan lebih menambah kekhusyukan.
h) melakukan sujud tilawah apabila membaca ayat-ayat sajdah
i) mengetahui keutamaan-keutamaan khusyuk di dalam shalat
diantaranya adalah firman Allah ta’alah, "berdo'alah kepada Tuhan dengan
merendahkan diri & dengan suara hati yg lembut tersembunyi" (Al-A'raf : 55)
j) tidak shalat di dekat makanan yang disukai
Rasulullah saw. bersabda, Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan (kencing atau buang air besar).
k) tidak melaksanakan shalat ketika dalam keadaan ngantuk
l) tidak menoleh ketika shalat
Rasulullah saw. bersabda, “Allah senantiasa menghadap kepada hambanya yang shalat selama dia tidak menoleh, apabila dia menoleh (dalam shalat), maka Allah berpaling darinya.”
Di dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda, “apabila salah seorang di antara kalian shalat, maka janganlah  ia mengangkat pandangannya kearah langit.”
m) tidak menguap atau meludah kearah depan ketika shalat
Rasulullah saw. bersabda, “apabila salah seorang diantara kalian menguap maka hendaklah dia menahan sekuatnya, karena setan masuk (dari mulut orang yang menguap).”


Julaibib dan wanita anshar

Imam Ahmad meriwayatkan, “Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit, dari Kinanah bin Nu’aim Al ‘Adawi, dari Abu Barzah Al Aslamy menyebutkan bahwa ada seorang lelaki bernama Julaibib yang suka memasuki tempat kaum wanita, mondar-mandir di hadapan mereka dan mencandai mereka.” Lalu aku berkata kepada istriku, “Jangan sekali-kali Julaibib mendatangimu. Sungguh kalau dia menemuimu, aku akan berbuat sesuatu dan pasti aku akan melakukannya.”
Abu Barzah Al Aslamy kemudian berkata, “(Kebiasaan) Orang-orang Anshar pada saat itu, apabila diantara mereka ada wanita yang belum bersuami, maka mereka tidak menikahkannya sehingga diketahui apakah Rasulullah saw. menginginkannya (untuk dinikahi) atau tidak.
Lalu Rasulullah saw. berkata kepada seorang lelaki Anshar, “Nikahkanlah aku dengan anak perempuanmu!” ia menjawab, “Silahkan, satu kehormatan dan kenikmatan bagi kami wahai Rasulullah!” beliau bersabda, “Sungguh aku menginginkannya tetapi bukan untukku.” Lalu ia bertanya, “Lalu untuk siapa wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “untuk Julaibib.”
Lelaki Anshar tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan ibunya.” Lalu ia mendatangi istrinya dan mengatakan kepadanya, “Rasulullah hendak melamar putrimu.” Istrinya menjawab, “sungguh kehormatan dan kemuliaan buatku.” Suaminya berkata, “Beliau melamar bukan untuk dirinya, tetapi beliau  melamar untuk Julaibib.” Istrinya berkata, “apakah Julaibib yang itu? Apakah Julaibib yang itu? Demi Allah jangan kau nikahkan putrimu dengan Julaibib.”
Ketika lelaki Anshar tersebut bangun dan hendak melaporkan keputusan istrinya kepada Rasulullah saw. putrinya berkata, “Siapa yang meminangku kepada kalian?” lalu ibunya menceritakan semua kepadanya. Putri tersebut kemudian  berkata, “Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah saw.? antarkan aku kepadanya, sungguh ia tidak akan menyia-nyiakan diriku.” Lalu sang ayahpun pergi menemui Rasulullah saw. ia berkata, “Kami menyerahkan segala urusannya kepada engkau (wahai rasulullah)” lalu Rasulullah menikahkannya dengan Julaibib.
Abu Barzah bercerita, “Lalu Rasulullah saw. keluar dalam satu peperangan. Ketika Allah telah memenangkannya, Beliau bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan.” Lalu beliau kembali bertanya, “Lihatlah lagi,apakah kalian kehilangan seseorang?” mereka menjawab, “Tidak” Rasulullah kemudian berkata, “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib, carilah ia di antara orang-orang yang meninggal.” mereka kemudian mencari Julaibib dan menemukannya diantara tujuh orang musuhnya yang telah ia bunuh, dan kemudian mereka membunuhnya. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah ini Julaibib, ia diantara tujuh musuhnya yang telah ia bunuh, kemudian mereka membunuhnya.”
Lalu Rasulullah mendatangi jenazah Julaibib dan berdiri di dekatnya, beliau bersabda, “Ia telah membunuh tujuh musuh, dan mereka kemudian membunuhnya, dia dari golonganku dan aku dari golongannya.” Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Kemudian Rasulullah membopongnya dan menggali kuburnya, ia tidak di baringkan kecuali di atas lengan Rasulullah saw. kemudian beliau menguburkannya. Dan tidak disebutkan bahwa ia dimandikan.
Tsabit berkata, “Tidak ada seorang janda di kalangan Anshar yang lebih banyak berderma melebihi istri Julaibib.”
Ishak bin Abdullah bin Abu Thalhah bertanya kepada Tsabit, “Apakah engkau tahu apa yang didoakan Rasulullah untuknya (istri Julaibib)?” ia menjawab, “Ya Allah, curahkanlah kebaikan untuknya (istri Julaibib), dan janganlah Engkau menjadikan kesempitan di dalam hidupnya.” Demikian Rasulullah mendoakannya, sehingga tidak ada seorang janda di kalangan Anshar yang lebih banyak berderma melebihi istri Julaibib.[1]



[1] ) Al Musnad:422/2, Muslim:2482, An Nasai di dalam kitab Al Kubra:8246

warisan Allah

Saudaraku
Sadarkah kita, bahwa Allah SWT. telah memberikan warisan kepada kita dengan sebuah warisan yang agung. Akan tetapi, sedikit sekali dari kita yang menyadari akan hal itu, atau tidak dapat memanfaatkan warisan yang telah diberikan oleh Allah kepada kita.
Apakah warisan Allah tersebut? marilah kita buka kembali firaman Allah ta’ala:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنا مِنْ عِبادِنا فَمِنْهُمْ ظالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سابِقٌ بِالْخَيْراتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (al fatir:32)
“Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada pula yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah SWT. telah memberikan warisan kepada orang-orang yang telah dipilih oleh-Nya berupa Al Kitab, dan dijelaskan oleh para ulama bahwa yang dimaksud dengan Al Kitab adalah Al Quran.
Kalau begitu sesungguhnya Allah SWT. telah memberikan warisan yang sama kepada kita, tetapi sikap kita terhadap warisan tersebutlah yang nanti akan menjadi pembeda.
Ibarat satu keluarga yang masing-masing mendapat warisan yang sama, maka kenyataannya adalah hasil dari masing-masing anggota keluarga nantinya berbeda.
Ada diantara mereka yang dapat mengelola harta warisan tersebut dengan baik, bahkan berhasil mengembangkannya sehingga jumlahnya terus bertambah. Sebagian yang lain ada yang hanya menjaga harta warisan tersebut tanpa berusaha untuk mengembangkannya, sehingga harta warisan tersebut tetap adanya, tidak bertambah dan tidak berkurang. Sementara sebagian yang lain tidak dapat mengelola harta warisan tersebut, sehingga harta tersebut habis sedikit demi sedikit. Kalau begitu, yang membedakan itu semua adalah bukan jumlah awalnya, tetapi kepribadian masing-masing indifidulah yang akan menjadikan hal yang sama pada awalnya menjadi berbeda pada akhirnya.
Demikian juga ketika kita diberi warisan oleh Allah SWT. berupa warisan yang sangat agung, yaitu Al Quran. Maka sikap dan tindakan masing-masing indifidu terhadap warisan tersebut berbeda sehingga hasilnya juga berbeda. Oleh karena itu, kemudian Allah SWT. menjelaskan bahwa di antara mereka ada yang dzalimun linafsih (dzalim terhadap dirinya sendiri), Muqtasid, dan Sabiqun bi Al Khairat (bersegera dalam kebaikan).
1. dzalimun linafsih
Di dalam tafsirnya Dr. Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dzalimun linafsihi adalah
الظالم لنفسه: بتجاوز الحد، وهو المفرط في فعل بعض الواجبات، المرتكب لبعض المحرمات.
Al Dzalimu Linafsihi adalah mereka yang melampaui batas, menyepelekan dari melakukan sebagian kewajiban, dan  mereka yang melakukan sesuatu yang dilarang.
Barang kali timbul satu pertanyaan di dalam diri kita, bagaimana orang yang dzalim terhadap dirinya dimasukkan oleh Allah termasuk di dalam hamba-hambanya yang terpilih yang diberi warisan?
Al Fakhru Al Razi di dalam tafsirnya menyebutkan:
فنقول المؤمن عند المعصية يضع نفسه في غير موضعها فهو ظالم لنفسه حال المعصية وإليه الإشارة بقوله صلى الله عليه وسلّم : "لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن"
Orang mukmin ketika bermaksiat, maka dia telah menempatkan dirinya bukan pada tempat yang seharusnya, oleh karena itu, dia termasuk kedalam orang yang mendzalimi dirinya sendiri pada saat dia bermaksiat. Hal ini seperti sabda Nabi saw., “seorang pezina tidaklah berzina, apabila saat itu dia dalam keadaan mukmin.”
Sementara Al Syaukani di dalam tafsirnya Fath Al Qadir menjelaskan:
وهو يصدق على الظلم للنفس بمجرد إحرامها للحظ وتفويت ما هو خير هلا فتارك الاستكثار من الطاعات قد ظلم نفسه باعتبار ما فوتها من الثواب وإن كان قائما بما أوجب الله عليه تاركا لما نهاه الله عنه فهو من هذه الحيثية ممن اصطفاه الله ومن أهل الجنة فلا إشكال في الآية ومن هذا قول آدم { ربنا ظلمنا أنفسنا } وقول يونس { إني كنت من الظالمين }.
Seseorang dikatakan dzalim terhadap dirinya sendiri, hanya dengan mengharamkan dirinya atau melewatkan kesempatan dari mendapatkan bagian yang lebih baik. Maka orang-orang yang tidak memperbanyak ketaatan maka dia telah mendzalimi dirinya sendiri karena dia telah melewatkan kesempatan untuk mendapat pahala (yang lebih banyak) meskipun dia adalah orang yang melaksanakan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah kepadanya dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Maka jika dilihat dari sisi ini, dia tetap termasuk hamba-hamba Allah yang dipilih dan juga termasuk ahli syurga, sehingga tidak ada masalah didalam memahami ayat tersebut. hal ini seperti ucapan nabi Adam as., “Wahai Rabb kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri.” Atau ucapan nabi Yunus as., “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim.”
2. Muqtasid
Siapakah Muqtasid tersebut? Dr. Wahbah Zuhaili di dalam tafsir Al Munir mengatakan:
المقتصد: المتوسط المؤدي للواجبات، التارك للمحرمات، لكنه قد يترك بعض المستحبات، ويفعل بعض المكروهات.
Al Muqtashid adalah orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban, meninggalkan hal-hal yang diharamkan, akan tetapi dia terkadang meninggalkan sebagian hal-hal yang disunahkan, dan melakukan hal-hal yang dimakruhkan.
Sementara Al Syaukani menjelaskan:
المقتصد هو من يتوسط في أمر الدين ولا يميل إلى جانب الإفراط ولا إلى جانب التفريط.
Al Muqtasid adalah orang yang pertengahan di dalam perkara agama, dia tidak berlebih-lebihan tetapi juga tidak menyepelekan.
Hal ini seperti yang digambarkan di dalam sebuah hadits Rasulullah saw.
قال النعمان بن قوقلٍ يا رسول الله أرأيت إن صليت المكتوبة وحرمت الحرام وأحللت الحلال ولم أزد على ذلك شيئاً أأدخل الجنة فقال النبي {صلى الله عليه وسلم} نعم.
Al Nu’man bin Qauqil berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu jika aku melaksanakan shalat yang wajib, mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal, dan aku tidak menambahinya dengan sesuatu yang lain, apakah aku masuk syurga? Rasulullah saw. menjawab, “Ya.”
3. Sabiqun Bi Al Khairat Bi Idznillah
Kelompok Yang ketiga adalah kelompok yang paling baik di antara mereka, mereka adalah kelompok yang bersegera dalam kebaikan dengan ijin Allah SWT.
Dr. Wahbah Zuhaili menjelaskan tentang kelompok yang ketiga:
السابق بالخيرات بإذن اللّه: وهو الذي يفعل الواجبات والمستحبات، ويترك المحرمات والمكروهات وبعض المباحات.
Al Sabiq Bi Al Khairat adalah orang yang melaksanakan hal-hal yang wajib dan yang sunah, dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan yang makruh, serta meninggalkan sebagian hal-hal yang mubah.
Sehingga yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita memanfaatkan warisan yang telah diberikan oleh Allah kepada kita yaitu Al Quran dengan sebaik-baiknya sehingga kita menjadi kelompok Al Sabiq Bi Al Khairat. Yaitu dengan menjadikan Al Quran sebagai sumber hukum dan inspirasi kita dalam berdakwah dan mengajak orang lain menuju kebaikan. Waallahu a’lam bisshawab.


kaki gunung kerinci 14 sept 2014

nahwu 1

الكلام و الكلمة

     الأمثلة
1-  الكتاب جديد
2-  المسلمون ناجحون
3-  يكتب علي الدرس
4-  يحب الله المتقين
5- هاجر محمد من مكة إلى المدينة
   
    القواعد :
1)   الكلام هو اللفظ المركب من الكلمات المفيد (1-5)
2)   الكلمة هي لفظ موضوع لمعنى مفرد
3)   الكلمة ثلاثة أنواع: اسم و فعل و حرف
4)   الاسم : كلمة دلت على معنى بنفسها غير مقترن بزمن
5)   الفعل : كلمة دلت على معنى بنفسها مقترن بزمن

6)   الحرف : كلمة دلت على معنى في غيرها 

Friday, September 12, 2014

Talhah bin ‘Ubaidilah Attaimy
Suatu ketika Talhah bin ‘Ubaidilah Attaimy ikut serta dalam kafilah dagang quraisy kenegri syam,ketika kafilah dagang tersebut telah sampai dikota Busra,para pedagang quraisy tersebut segera melaksanakan transaksi jual beli dipasar Busra yang penuh sesak.saat itu Talhah bin ‘Ubaidilah masih sangat muda dan belum memiliki pengalaman berdagang seperti pedagang yang lain,tetapi dia memiliki kecerdasan dan analisis dagang yang tajam sehingga ia mampu untuk bersaing dengan pedagang lain yang lebih berpengalaman bahkan dia mampu mengungguli mereka dalam setiap transaksi jual beli.
Ketika Talhah bin ‘Ubaidilah sedang beraktifitas dipasar yang ramai dengan pengunjung yang datang dari segenap penjuru,terjadilah satu peristiwa yang tidak hanya menyebabkan  perubahan jalan hidupnya saja tetapi peristiwa tersebut merupakan kabar gembira yang akan merubah sejarah.marilah kita simak kisah Talhah bin ‘Ubaidilah sebagaimana ucapannya.
Talhah bercerita:ketika kami sedang dipasar Busra,tiba-tiba ada seorang pendeta yang berkata:wahai para pedagang,tanyakanlah!apakah ada diantara kalian yang berasal dari Makkah?ketika itu saya berada dekat darinya maka segera  berusaha menghampirinya.saya berkata:ya,saya berasal dari Makkah. pendeta itu berkata:apakah telah muncul diantara kalian orang yang bernama Ahmad? Saya menjawab:siapa Ahmad? Pendeta itu menjawab:anak dari Abdullah bin Abdul muthalib,pada bulan inilah dia akan muncul,ia adalah nabi terahir,dia akan muncul dari makkah kemudian hijrah ke suatu tempat yang berbatu hitam,banyak ditumbuhi pohon kurma,dan terdapat mata air,maka janganlah engkau didahului oleh orang lain untuk mengikuti nabi terakhir ini wahai anak muda. Talhah berkata:ucapan pendeta tersebut sangat membekas dihatiku,maka saya segera menuju untaku dan menyiapkan semua perbekalan,saya tinggalkan kafilah dagang dan bergegas menuju Makkah.
ketika sampai dimakkah saya bertanya kepada keluargaku:apakah ada satu peristiwa yang terjadi dimakkah setelah kepergianku berdagang?
Mereka berkata: ya,Muhammad bin Abdullah telah mengaku dirinya sebagai nabi,dan Ibnu Abi Quhafah (Abu bakar assiddiq) telah menjadi pengikutnya.
Talhah berkata:saya mengenal Abu bakar,dia adalah orang yang dermawan,dicintai,dan ramah kepada kaumnya. Dia adalah pedagang yang berakhlak mulia dan istiqamah,kami sangat mencintainya dan menyukai untuk duduk bersamanya karena keluasan ilmunya tentang suku quraisy dan orang yang paling tahu tentang silsilah orang quraisy.
saya menghampirinya dan bertanya kepadanya:apakah benar bahwa Muhammad bin Abdillah telah menampakkan  kenabiannya dan engkau telah mengikutinya?
Abu bakar menjawab: “ya...” kemudian dia menceritakan akan keadaannya dan membujukku untuk masuk islam bersamanya,maka saya juga menceritakan tentang kisah sang pendeta yang membuatnya terkejut dan berkata:mari kita pergi ke Muhammad untuk menceritakan kisahmu dengan pendeta itu dan engkau mendengar apa yang ia dakwahkan agar engkau masuk kedalam agama Allah.
Talhah berkata:”kemudian saya pergi bersama Abu bakar ketempat Muhammad,ia menawarkan islam kepadaku,membaca beberapa ayat alquran,dan memberikan kabar gembira kepadaku tentang kebaikan didunia dan akhirat”.
Allah melapangkan dadaku untuk menerima islam,saya juga menceritakan kepadanya tentang cerita sang pendeta maka nampaklah rasa senang di wajah beliau.kemudian saya mengumumkan keislamanku dan mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan beliau,
Masuk islamnya Talhah bin Ubaidillah telah mengguncang keluarga dan kerabatnya bagaikan petir yang menyambar disiang bolong,orang yang paling terpukul dengan keislaman Talhah adalah ibunya sendiri,sebab dia berharap suatu saat Talhah akan menjadi pemimpin bagi kaumnya.
Kaumnya senantiasa berusaha untuk mengeluarkan Talhah dari agama islam,tetapi keimanan itu telah tertanam  begitu kuat di hatinya bagaikan gunung yang tertancap begitu kokohnya dan tak tergoyahkan.ketika mereka telah putus asa dan tidak dapat membujuk Talhah dengan cara halus,maka mereka menggunakan kekerasan dengan menyiksanya.
Mas’ud bin Kharras meriwayatkan: ketika saya sedang sa’i diantara shafa dan marwa,ada sekolompok orang yang sedang mengarak seorang pemuda yang tangannya terikat dilehernya,mereka berlari dibelakang pemuda itu,mendorong,dan memukuli kepalanya,sedang dibelakang mereka ada seorang perempuan baya yang terus memaki dan meneriakinya.
Saya bertanya:ada apa dengan pemuda ini?
Mereka menjawab:dia adalah Talhah bin Ubaidillah,dia telah keluar dari agama nenek moyangnya dan mengikuti anak bani Hasyim(Muhammad).
Saya bertanya:lalu siapa perempuan baya yang ada dibelakangnya?
Mereka menjawab:dia sha’bah bintu Alhadlramy,dia adalah ibu pemuda itu.
Kemudian Naufal bin khuwailid yang bergelar singa quraisy mengikatnya dengan tali yang kuat,dia juga mengikat Abu bakar Assiddiq,keduanya diikat bersamaan,dan mulailah orang-orang pandir Makkah menyiksa keduanya…karena itulah kemudian Talhah bin ubaidilah dan Abu bakar Assiddiq dijuluki”alqariinain” atau dua teman dekat.
Seiring dengan berjalannya hari dan siksaan yang bertubi-tubi,semakin mantaplah keimanan Talhah bin Ubaidillah,kecintaannya kepada islam dan muslimin semakin tumbuh dan berkembang,sehingga dia dijuluki sebagai “assyahiid alhay”atau seorang syahid yang hidup.sementara rasulullah SAW memanggilnya dengan beberapa panggilan diantaranya:Talhah alkhair(Talhah yang baik),Talhah aljud(Talhah yang dermawan),Talhah alfayyadl(Talhah yang  pemurah)….setiap julukan ini memiliki kisahnya tersendiri.
Adapun kisah kenapa dia di juluki “asyahiid alhay”(seorang syahid yang hidup),yaitu saat perang uhud ketika itu kaum muslimin lari meninggalkan rasulullah SAW sehingga tidak ada yang bertahan bersama rasulullah SAW kecuali sebelas orang dari golongan anshar dan Talhah bin Ubaidillah dari golongan muhajirin.Ketika itu Rasulullah SAW dan orang-orang yang bersama beliau naik keatas sebuah gunung,tetapi ‘Usbah dari kaum musyrikin berhasil menyusul dan ingin membunuh beliau,maka nabi SAW berkata:siapa yang akan menghalau orang-orang musyrik itu? dan dia akan menemaniku disyurga. Talhah berkata:saya wahai Rasulullah.rasul berkata:jangan,tetap ditempatmu! kemudian Salah seorang dari golongan anshar berkata:saya wahai Rasulullah.Rasul berkata:ya,engkau…kemudian orang anshar itu bertarung sehingga dia terbunuh.
Rasulullah terus mendaki keatas gunung sementara orang-orang musyrik terus berusaha untuk mengikuti beliau,Rasul juga terus mengulangi pertanyaannya dan Talhah juga terus mengulangi jawabannya:saya wahai Rasulullah,tetapi asul terus melarangnya dan mengijinkan orang-orang anshar sehingga mereka semua memperoleh syahid dan tidak ada yang tersisa bersama Rasulullah kecuali Talhah bin Ubaidilah,ketika orang-orang musyrik berhasil menyusul beliau,Rasul berkata kepada Talhah:sekaranglah saatnya..!
Pada saat itu,gigi geraham rasulullah patah,dahi dan bibir beliau terluka,darah mengalir di wajahnya,dan beliau merasakan kepayahaan yang luarbiasa.sedangkan Talhah terus menghalau orang-orang musyrik dan mengusir mereka dari sekelilling Rasulullah kemudian dia menuju tempat beliau dan membawanya ketempat yang agak tinggi lalu menyandarkannya disuatu tempat. sementara Talhah kembali menghalau orang-orang musyrik sehingga mereka tidak dapat mendekati rasulullah SAW.
Abu bakar berkata:ketika itu saya dan Abu Ubaidah ibn aljarrah berada jauh dari Rasulullah,ketika kami sampai ketempat beliau dan ingin mengobatinya,beliau berkata:tinggalkan aku,dan tolonglah temanmu(yakni Talhah)!.saat itu darah terus mengalir dari tubuh Talhah dan ditubuhnya terdapat lebih dari tujuhpuluh luka,baik luka karena sabetan pedang,tikaman tombak,atau lemparan anak panah,telapak tangannya terputus dan jatuh entah dimana.
Setelah semua kejadian itu Rasul berkata:”siapa saja yang ingin melihat orang yang berjalan dimuka bumi padahal dia telah meninggal dunia maka hendaklah dia melihat Talhah bin Ubaidillah.”
Dan setiapkali teringat akan peristiwa uhud,Abu bakar Assiddiq berkata:semua yang terjadi pada hari itu adalah milik Talhah bin Ubaidillah.
Inilah kisah kenapa Talhah dijuluki sebagai assyahiid alhay atau seorang syahid yang masih hidup,adapun kenapa dia dijuluki Talhah alkhair(Talhah yang baik) dan Talhah aljud(Talhah yang dermawan),ada banyak kisah yang menceritakan hal itu,diantaranya:      
Talhah adalah seorang pedagang yang kayaraya dan memiliki perniagaan yang sangat banyak,sehingga pada suatu hari dia mendapatkan harta berjumlah tujuhratus ribu dirham dari Hadramaut,pada malam harinya dia merasakan ketakutan dan kesedihan yang sangat,masuklah istrinya yaitu Umu kultsum binti Abu bakar Assiddiq,ia berkata:ada apa wahai Abu Muhammad?sepertinya kami telah berbuat salah kepadamu!Talhah menjawab: tidak,sungguh sebaik-baik istri adalah dirimu,tetapi saya berpikir sejak tadi malam, apakah yang orang sangkakan akan tuhannya jika dia tidur dan harta ini berada dirumahnya?!istrinya berkata:apa yang membuatmu bersedih dari harta itu?dimana orang-orang yang membutuhkan dari kaum dan kerabatmu?! Esok hari,bagikanlah harta itu diantara mereka yang membutuhkannya.Talhah berkata:mudah-mudahan Allah merahmatimu, Talhah meletakkan harta itu diatas nampan dan membagikannya untuk orang-orang faqir dari golongan anshar dan muhajirin.
Diceritakan pula bahwa ada seorang yang datang kepada Talhah bin Ubaidillah meminta bantuannya,sambil menyebutkan hubungan kekerabatan diantara mereka,Talhah berkata:hubungan kekerabatan ini tidak pernah disebutkan oleh seseorangpun kepadaku sebelumnya,saya memiliki sebidang tanah yang akan dibeli oleh Utsman bin Affan tigaratus ribu dirham,jika engkau mahu silahkan ambil tanah itu,atau saya akan menjualnya tigaratus ribu dirham dan saya akan memberikan uangnya kepadamu,orang itu berkata:saya akan mengambil uangnya,maka Talhah memberikannya.

Berbahagialah Talhah alhair atau Talhah aljud dengan gelar yang telah diberikan oleh rasulullah SAW kepadanya,mudah-mudahan Allah meridlainya dan menyinari quburnya.
الرقية الشرعية
1- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
2- بسم الله الرحمن الرحيم
الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) (سورة البقرة)
3- وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (102) (سورة البقرة)
4- وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (163) إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164) (سورة البقرة)
5- اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255) لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256) اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (257) (سورة البقرة)
6- آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286) (سورة البقرة)
7- شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (18) إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19)
 (سورة آل عمران)
8- إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (54) ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55) وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56) (سورة الأعراف)
9- وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ (117) فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (118) فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ (119) وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ (120) قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (121) رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ (122) (سورة الأعراف)
10- وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ (79) فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (80) فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ (81) وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ (82) (سورة يونس)
11- قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى (65) قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى (66) فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَى (67) قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَى (68) وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى (69) (سورة طه)
12- أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116) وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (117) وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (118) (سورة المؤمنون)
13- وَالصَّافَّاتِ صَفًّا (1) فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا (2) فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا (3) إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ (4) رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِ (5) إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ (6) وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ (7) لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ (8) دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ (9) إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ (10) (سورة الصافات)
14- وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32) (سورة الأحقاف)
15- يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ (33) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (34) يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِ (35) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (36) (سورة الرحمن)
16- لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (21) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (22) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (23) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (24) (سورة الحشر)
17- قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2) وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا (3) وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا (4) وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (5) وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (6) وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا (7) وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا (8) وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا (9) (سورة الجن)
18- بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
 ( 3 x )
19- بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5) ( 3 x )
20- بسم الله الرحمن الرحيم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6) ( 3 x)
21- بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ (أَرْقِيْنِيْ) مِنْ كُلِّ دَاءٍ يُؤْذِيْكَ (يُؤْذِيْنِي) وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْعَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ (يَشْفِيْنِي) بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ (أَرْقِيْنِي) وَاللهُ يَشْفِيْكَ (يَشْفِيْنِي)
22- أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (3x)
23- أعوذ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ (3x)
24- أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِى لاَ يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ، وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِى الأَرْضِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ شَرِّ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ
25- أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونَ
26- اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ ، أذْهِب البَأسَ ، اشْفِ أنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفاؤكَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقماً
Letakkanlah tanganmu di tempat yang sakit lalu mengucapkan:
بسم الله  (3x)

أَعُوذُ بِعِزَّةِ الله وَقُدْرَتِهِ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ.

Monday, September 8, 2014

TATA CARA MENDIDIK ANAK
Semua orang tua menginginkan agar anaknya tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah, tetapi hal itu tidak terjadi begitu saja. Ada hal-hal yang harus kita perhatikan dalam mendidik anak, agar mereka menjadi anak yang shalih dan shalihah, diantaranya:
1- memilih calon istri yang shalihah
 janganlah seseorang menikah kecuali setelah dia melakukan istikharah dan berdiskusi dengan orang-orang yang kompeten tentang hal tersebut. Karena istri adalah ibu dari calon anak-anaknya, dan dialah yang akan membentuk akhlaq dan perilaku mereka.
Istri juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap suami, oleh karena itu dikatakan dalam satu pepatah “seseorang itu dapat dilihat dari agama istrinya”.
Abu Al Aswad Al Duali pernah berkata kepada anak-anaknya, “Aku telah berbuat baik kepada kalian ketika masih kecil dan ketika sudah dewasa, bahkan aku telah berbuat baik kepada kalian saat kalian belum dilahirkan. Mereka bertanya, ‘bagaimana anda berbuat baik kepada kami bahkan ketika kami belum dilahirkan?’ dia menjawab, ‘yaitu dengan memilihkan seorang ibu yang kalian tidak dicela karenanya (seorang ibu yang shalihah)”.
2- berdoa kepada Allah SWT. agar diberi keturunan yang shalih
Ini adalah cara para nabi dan orang-orang shalih, sebagaimana firman Allah SWT. yang menceritakan tentang doa nabi zakaria as. “ia berkata, ‘wahai Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-MU, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali Imran:38). Sebagaimana pula diceritakan bahwa diantara sifat orang-orang shalih adalah mereka selalu berdoa, “ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan:74).
3- gembira dengan kelahiran anak, baik anak laki-laki maupun perempuan
Tidaklah patut bagi seorang muslim untuk merasa murka atas kelahiran seorang bayi, atau merasa berat dan takut karena harus memberikan nafkah, karena Allah lah yang telah menjamin rizki mereka, sebagaimana firman-Nya, “Kamilah yang memberi rizki kepada mereka dan kepadamu.” (Al Isra’: 31).
Demikian juga haram hukumnya bagi seorang muslim untuk merasa murka dan murung karena kelahiran anak perempuan, karena hal itu merupakan perilaku orang-orang jahiliyah yang harus kita hindari .
Anak-anak perempuan memiliki keutamaan yang sangat banyak, mereka adalah anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan, para istri, bahkan mereka adalah para calon ibu. Mereka adalah separuh dari masyarakat yang akan melahirkan separuh yang lain, mereka adalah masyarakat yang sesungguhnya.
Diantara hal yang menunjukkan keutaman para wanita adalah Allah telah menamakan kehadiran mereka sebagai anugerah pemberian, dan mendahulukan penyebutan mereka dibanding laki-laki, Allah Ta’ala berfirman, “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al Syura:49). Rasulullah saw. juga bersabda, “Barangsiapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan, maka mereka akan menjadi pelindung baginya dari api neraka.” Beliau juga bersabda, “Tidaklah seseorang memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, kemudian dia bertakwa kepada Allah untuk mereka, dan berbuat baik kepada mereka kecuali dia akan masuk syurga.”
4- meminta pertolongan Allah dalam mendidik mereka
Ketika Allah menolong seorang hamba dalam mendidik anak-anaknya memenuhi segala kebutuhannya, maka sungguh dia adalah orang yang beruntung, sebaliknya ketika Allah menyerahkan hal itu kepada dirinya sendiri maka dia akan merugi.
5- berdoa yang baik untuk anak-anak, dan menjauhi doa atau ucapan jelek untuk mereka
Kalau anak-anak kita shalih, maka kita harus mendoakan agar mereka diteguhkan dan ditambah keshalihannya. Kalau mereka belum shalih, maka kita harus mendoakan agar Allah memberikan hidayah kepada mereka. Dan janganlah kita mendoakan kejelekan bagi mereka, karena kalau anak-anak kita rusak dan menyimpang, maka kita sebagai orangtualah yang akan disiksa pertama kali.
6- memberi nama dengan nama yang baik
Hendaklah orangtua memberi nama anaknya dengan nama yang baik dan islami, dan menjauhi nama-nama yang dilarang, nama-nama yang dimakruhkan, atau nama-nama yang memiliki makna yang jelek, karena nama tersebut akan disandang oleh sianak selama hidupnya.
Ibnu Al Qayyim berkata, “jarang kamu melihat nama yang jelek kecuali untuk sesuatu yang memang jelek.”
Adalah hikmah Allah SWT. ketika memberikan ilham untuk memberikan nama sesuai dengan sesuatu yang diberi nama tersebut, sehingga berkesuaian antara lafal dan maknanya.
7-  menanamkan iman dan akidah yang benar pada diri anak
Satu hal yang harus pertama kali pada diri seorang anak adalah agar mereka mengucapkan Syahadatain, dan menumbuhkan di dalam hati mereka rasa cinta kepada Allah, dan memberikan pemahaman bahwa semua kenikmatan ini hanyalah dari Allah SWT. serta mengajari mereka bahwa Allah berada di langit, Dia adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha melihat, tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan diri-Nya dan lain-lain dari urusan akidah. Demikian juga ketika mereka sudah dewasa, maka orang tua wajib untuk mengarahkannya agar membaca buku-buku akidah yang sesuai dengan mereka.
8- menanamkan perilaku yang terpuji dan akhlak yang mulia di dalam diri mereka
Orang tua wajib untuk mendidik anak-anak mereka agar menjadi orang yang bertakwa, santun, jujur, amanah, menjaga kehormatannya, sabar, berbuat baik, menjaga tali silaturahmi, jihad, dan semangat dalam mencari ilmu.
9- menjauhkan mereka dari akhlak yang tercela dan menanamkan didalam jiwa mereka agar membenci akhlak yang tercela tersebut
Orang tua harus mengajarkan anak-anak mereka agar menjauhi dusta, khianat, hasad, iri, ghibah, mencela, mengambil hak orang lain, durhaka kepada orang tua, memutus silaturahmi, pengecut, egois, dan akhlak-akhlak tercela yang lain.
10- mengajari mereka hal-hal yang baik, dan membiasakan mereka untuk melakukannya.

Orang tua harus mengajarkan anak-anak untuk melakukan yang baik, seperti mengucapkan Alhamdulillah ketika bersin, menutup mulut ketika menguap, makan dengan tangan kanan, adab-adab ketika buang hajat, adab mengucap dan menjawab salam, adab menjawab telepon, menemui tamu, dan lain-lain. ketika orang tua membiasakan anak-anak mereka melakukan adab-adab tersebut ketika kecil, maka hal itu akan menjadi kebiasaan dia ketika sudah dewasa nanti.